Friday, January 15, 2010

Profil Facebook Bisa Menjelaskan Kepribadian Pria



Ketika sebagian orang mulai bosan dengan Facebook, sebagian yang lain ternyata masih tergila-gila dengan aktivitas ini. Bila Anda mengenal seorang pria (atau kekasih Anda) yang masih sering Facebook-an sepanjang hari, coba manfaatkan hal ini untuk mengenali kepribadiannya.
Carol Tuttle, penulis It’s Just My Nature! A Guide to Knowing and Living Your True Nature, mengatakan bahwa apa yang Anda posting pada situs jejaring sosial ini, dan bagaimana Anda menggunakannya, dapat menggambarkan dengan jelas diri Anda. Ingin tahu bagaimana hasil pengamatannya?

"Profile photo" dia
"Ketika menilai foto profil seseorang, ingatlah bagaimana ia menggunakan Facebook," papar Leora Israel, Kepala Public Relations and Distribution untuk perusahaan media sosial Vayner Media. "Beberapa orang menggunakannya untuk bisnis, lainnya untuk bersenang-senang, yang lain untuk mencari teman-teman lamanya. Jika seorang pria memiliki foto profil yang membosankan, maka itu tidak berarti dia membosankan. Mungkin dia hanya ingin terhubung sebagai "friends" dengan atasannya."

Foto profil saat dugem
Hal ini tidak melulu berarti ia senang dugem. Apakah ia memegang botol bir? Ia mungkin memang senang dugem, dan hal ini tidak menjadi masalah, kecuali usianya seharusnya menunjukkan bahwa ia tak lagi berkeliaran di tempat-tempat tersebut. Jika pria ini sudah tak pantas menonton episode awal serial Doogie Howser, tetapi masih mencoba menunjukkan bahwa ia biang pesta, maka menurut Israel ia mungkin sedang jomblo.

Foto profil dengan selebriti
Ketika pria berpose dengan seorang bintang, Israel menilai hal ini sebagai tindakan cerdas. "Hal ini akan menunjukkan, ia berhasil melintasi area profesional dan pribadi. Ia terlihat cool karena telah bertemu orang-orang terkenal, dan memberikan Anda kesempatan untuk melihat minatnya," katanya.

Ia sering "update" status
Apakah ia sering meng-upload foto dan mengubah status updates-nya? “Mem-posting secara teratur menunjukkan bahwa pria ini senang berbicara dan suka berinteraksi. Ia senang terhubung secara sosial," ucap Tuttle. Di pihak lain, Israel punya pendapat lain. "Saya mau kabur jika ia menarasikan hidupnya melalui Facebook. Saya tidak ingin tahu apa yang dinikmatinya saat makan siang, kecuali itu sandwich terenak yang pernah ada," katanya.

Makna status "updates"-nya
Status adalah salah satu kunci kepribadian yang paling jelas. Bagaimanapun juga, orang yang meng-update status berarti menuliskan pesan-pesan yang ingin di-share dengan bebas, jadi lebih baik Anda berhati-hati. "Posting yang isinya menggerutu atau mengomplain sesuatu artinya ia orang yang butuh perhatian dan tidak bisa mengatasi hidupnya," kata Tuttle. Adapun jika ia selalu mengkritik orang lain atau situasi tertentu, maka ia mungkin tipe pria yang selalu merasa benar.

Ia sering mengikuti "quiz"
“Jika ia mem-posting skor quiz-nya yang tinggi, dan hasilnya membuatnya terlihat hebat, artinya dia tipe kompetitif dan suka tantangan," ucap Tuttle. Misalnya saja, ia bangga karena meraih skor 98 persen dari quiz “How Much Do You Know About Jaws: The Revenge?” dan “Really, Really Weird ’80s Trivia”. Artinya, pria ini memiliki sifat yang lebih aktif, tetapi kurang sensitif terhadap detail seperti apa yang akan diberikannya pada ulang tahun pasangan. Namun jika ia sudah punya ide yang membuatnya excited, maka ia tak akan mengecewakan Anda.

Ia punya ribuan teman
Ada dua kemungkinan: ia memang senang berteman dan punya jaringan yang luas. Orang ini sangat optimistis dan terbuka terhadap kesempatan-kesempatan baru. Kemungkinan lainnya, ia hanya ingin dianggap punya banyak teman. Menurut Tuttle, orang yang menambahkan banyak teman yang sebagian besar mungkin tidak dikenalnya, hanya berkampanye untuk menjadi Mr Populer. 

Ia selalu menambahkan teman wanita
Hati-hati jika kekasih baru Anda adalah seorang pengumpul teman, khususnya jika teman-teman barunya kebanyakan wanita cantik. “Banyak lho, pria yang mem-browse teman-teman sahabatnya untuk mencari wanita-wanita cantik dan menambahkannya sebagai teman," kata Israel. Hal ini bisa mengarah pada poking dan flirting via Facebook Chat, dan ini membahayakan hubungan Anda. 

Temannya hanya sedikit
Hal ini tidak berarti ia seorang yang kuper. Bahkan, hal ini bisa merupakan pertanda baik. "Pria yang daftar temannya hanya sedikit bisa berarti sangat setia. Temannya tak banyak, tetapi ia punya hubungan yang dalam dengan mereka," ungkap Tuttle. "Ia tidak membiarkan banyak orang mengetahui perasaannya yang sebenarnya. Namun ketika ia melakukannya, ia bisa sangat jujur. Orang seperti ini tidak suka bermain-main."

Daftar temannya yang terbatas juga menunjukkan bahwa ia tidak suka menghabiskan waktunya untuk Facebook-an. Ia lebih suka melakukan aktivitas sesungguhnya di dunia nyata.

"Photo album"-nya
Membolak-balik album fotonya akan memberikan gambaran yang jelas mengenai kepribadian seorang pria. Ia menyisihkan waktu untuk memilih-milih foto, membuat caption, dan men-tag teman-temannya. Lihat pula jenis fotonya. Foto-foto perjalanan menandakan ia suka traveling. Foto-foto keponakan menunjukkan bahwa keluarga sangat penting buatnya. Adapun foto-foto pernikahan seorang temannya memperlihatkan bahwa ia menghargai persahabatan. “Jika ia mempunyai banyak group photo, maka itu artinya dia senang berhubungan dengan orang lain, dia sungguh-sungguh, dan sensitif," kata Tuttle.

Ia memainkan "games" Facebook
Kita semua pasti suka main games sesekali. Namun, pria yang sering memainkan games FB umumnya suka bersenang-senang. Kemungkinan, ia juga sedikit kurang bertanggung jawab karena mengambil jam kantor untuk main games. "Paling menjengkelkan ketika pasangan mengatakan betapa sibuknya dia di kantor. Namun ketika Anda melihat profil Facebook-nya, ternyata ia membuat skor tertentu pada permainannya, pukul 14.00," ujar Israel.
(* Kutipan kompas.com)
Sumber: Glamour

6 Tipe Peselingkuh


Anda mungkin hanya tahu dua jenis peselingkuh: pria yang berselingkuh dari istrinya, atau berselingkuh dari kekasihnya. Dua-duanya menyebabkan sakit hati dan hilangnya kepercayaan terhadap pasangannya ini.

Namun menurut Dr Doug Weiss, presiden American Association for Sex Addiction Therapy dan pendiri situs konseling SexAddict.com, ada 6 jenis peselingkuh. Tidak semua dari peselingkuh ini adalah pecandu seks, namun ada peselingkuh kambuhan yang memang memiliki masalah kecanduan seks.
Anda ingin tahu tipe-tipe yang dimaksudnya? Dr Weiss menjelaskannya berdasarkan ringkasan dari bukunya, Addicted to Adultery: The Other Reason Spouses Cheat:

1. Si pemburu
Tipe ini cerdas, sukses, dan pintar bicara, yang memancarkan energi seksual atau narsisistik tertentu. Mereka biasanya mencari orang yang rapuh, kesepian, atau justru pecandu seks lain untuk menikmati quickie sex. Mereka punya pickup lines atau modus operandi yang jelas untuk memerangkap korbannya. Tetapi mereka tidak akan mencari tipe pemburu lain, karena akan menyakiti mereka. Contoh tipe ini adalah Tiger Woods, yang menurut Dr Weiss mencari  tipe wanita tertentu yang muda, cantik, langsing, dan rela melakukan apa saja untuknya.

“Korban mereka bukan wanita milyuner, bukan bintang olahraga, atau aktris," kata Dr Weiss, tentang wanita-wanita yang pernah dikencani Tiger Woods. "Tak satu pun dari wanita ini yang memiliki kekuasaan. Pokoknya mereka bukan ancaman."

2. Si pahlawan
Tipe ini biasanya berlagak ingin menolong korbannya yang sedang mengalami kesusahan. Mereka akan mendekati korbannya sambil berpura-pura menjadi pendengar yang baik mengenai kehidupan si korban. Korban tentu merasa sangat dihargai dan dimengerti, sehingga menaruh kepercayaan pada si pahlawan ini. Kepercayaan ini lalu disambut dengan gembira, karena artinya jalan untuk mendapatkan si korban semakin dekat. Bahkan setelah mereka berhasil merebut hati si korban, mereka akan tetap dipandang sebagai pria yang manis. "Pahlawan ini ingin mendengar wanita memujanya," kata Dr Weiss.

3. Tipe korban
Tipe ini justru sebaliknya, berperan sebagai korban. Mereka akan berkeluh-kesah pada teman wanitanya, bahwa istrinya tidak pernah memperhatikan, menghargai, apalagi ingin berhubungan intim dengannya. Orang ini berlagak mencari seseorang bisa membantunya keluar dari permasalahannya, membuat wanita calon korbannya merasa iba. Padahal, dengan cara itulah mereka menjerat korban sesungguhnya.

“Pria seperti ini memanipulasi wanita melalui rasa iba,” kata Dr Weiss. Lagi-lagi ia menjadikan Tiger Woods sebagai contohnya. Tiger disebut-sebut selalu mengeluh tidak bahagia dalam pernikahannya dengan istrinya, Elin, untuk meyakinkan wanita lain supaya mau tidur dengannya.

4. Tipe oportunis
Tipe ini bisa mengincar seseorang yang 20 tahun lebih muda atau lebih tua, gemuk atau kurus, kaya atau kekurangan. Mereka akan merasa senang jika diinginkan atau didambakan orang lain, sehingga siapa saja yang menginginkan mereka tentu akan diterima dengan antusias. Mereka tak peduli bagaimana penampilan korbannya, atau apa latar belakangnya. Pendeknya, selama ada kesempatan, mereka akan berusaha mendapatkannya. "Tipe oportunis ini mencari wanita dalam kondisi apa pun," ujar Dr Weiss.

5. Tipe profesional
Ini tipikal pria pada umumnya. Tipe ini tidak mencari cinta, tidak peduli pada keinginan atau kebutuhan korbannya, atau apa yang dipikirkan korban mengenai diri mereka. Sebab mereka sebenarnya menjalani kehidupan normal, memiliki istri yang baik, anak-anak yang manis, dan pekerjaan yang mapan. Tetapi mereka bisa menjadi badung ketika mereka menginginkannya. Karena itu mereka berusaha menyembunyikan semua aksinya. Menurut mereka, “Kalau tidak ada yang tahu, tidak akan ada yang sakit hati.”

6. Tipe pemuja
Ini tipe peselingkuh yang paling spesifik. Mereka hanya menginginkan satu tipe wanita tertentu, yang sangat terbatas. Bahkan, mereka berani mengambil risiko untuk menerima satu kesempatan langka bersama wanita yang mereka inginkan. Mereka bisa membagi-bagi hatinya, dan seringkali merasa memiliki hak untuk melakukan perselingkuhan.

“Mereka berselingkuh untuk memenuhi desakan akan tipe wanita tertentu," ujar Dr Weiss, sambil menambahkan bahwa kriterianya antara lain suku, ukuran, atau apa pun yang tidak mereka temukan pada diri pasangan mereka.

Apa pun tipe peselingkuh yang Anda temui, Anda masih punya kesempatan untuk memperbaiki hubungan. “Jalan keluarnya tetap sama: kejujuran, pertanggungjawaban, dukungan, dan mengatasi masalah karakter dan psikologis mereka," katanya. "Dan, mereka bisa kok menjadi lebih baik, asalkan mereka mau."
Sumber: Betty Confidential

Pria Memikirkan Seks Setiap 30 Menit


Anda mungkin sering mendengar kalimat "Yang ada di pikiran pria cuma seks". Ungkapan semacam itu mungkin juga pernah terlontar dari mulut Anda sendiri. Memang, tak ada asap kalau tak ada api. Jadi, tak ada pernyataan seperti itu kalau tak ada bukti pendukungnya.
Mungkin Anda pernah merasa risih karena bagian tertentu dari tubuh Anda dilihat secara mendetail oleh seorang lelaki?

Setiap 30 menit
Jangan heran jika Anda pernah mengalami kejadian itu. Hasil penelitian mengatakan bahwa otak pria menunjukkan betapa besarnya faktor ini. Survei yang dilakukan Kinsey Institute (sebuah institusi di Universitas Indiana, Amerika Serikat) menyimpulkan bahwa 37 persen pria di dunia ini memikirkan seks setiap 30 menit.

Bahkan sebuah penelitian yang dimuat majalah Glamour mengatakan bahwa pria memikirkan seks setiap 7 detik. Jadi, jika diasumsikan bahwa pria memiliki waktu 16 jam terjaga dalam sehari, dan memikirkan seks setiap 7 detik, berarti ia memikirkan tentang seks sebanyak 57.000 kali sehari. Jumlah ini kurang lebih sebanyak jumlah seorang manusia bernapas kala ia terjaga (tidak sedang tidur). Wow!

Ibarat kompor
Seperti kita ketahui, bahwa pusat dari kehidupan seks manusia terletak di bagian otak yang disebut hipotalamus. Karena selain berperan dalam mengatur emosi, denyut jantung, dan tekanan darah, hipotalamus juga mengatur kehidupan seks.

Jika lelaki bisa memikirkan seks sebanyak itu dalam sehari, sudah bisa ditebak kan, siapa pemilik hipotalamus terbesar? Ya, kaum pria. Bukti-bukti lain juga mendukung tentang kaitan pria dan seks. Salah satunya adalah hormon testosteron yang dimiliki pria. Volumenya 20 kali lebih besar dibandingkan yang dimiliki perempuan. Ditambah dengan hipotalamus yang besar, tidak heran jika gairah pria pun mudah sekali tersulut.

Bahkan jika diibaratkan sebagai kompor, dorongan seks pria bagaikan kompor gas, sementara perempuan lebih mirip tungku elektrik. Pria hanya cukup pemanasan sedikit untuk mencapai ereksi, sementara perempuan perlu foreplay yang panjang untuk membangkitkan gairahnya.

Ekspresi kebutuhan
Anda tentu bertanya-tanya mengapa seks begitu penting peranannya bagi pria? Sebenarnya bukan berarti pria tidak memikirkan hal lain, lho. Kalau otak pria hanya diisi seks, tentu posisi tertinggi dalam bisnis dan politik tidak akan banyak dipegang mereka. Hanya saja bila pria memikirkan lawan jenis, seks lah yang berperan amat besar.









Menebak "Ukuran" Si Dia
Mengapa bisa begitu? Menurut para ahli, pria mengeluarkan tekanan yang membebaninya melalui orgasme saat bercinta. Pria juga menggunakan seks untuk mengekspresikan kebutuhan emosional mereka. Jadi, jangan heran jika pria langsung tidur usai mencapai puncak. Hal ini karena pria selalu membutuhkan waktu untuk memulihkan diri setelah bercinta. Dengan tidurlah ia memulihkan diri.


Ukuran penis, sebenarnya tidak begitu penting bagi wanita. Banyak wanita yang terpuaskan berkat keahlian jemari atau lidah pasangannya menari-nari di atas tubuhnya, atau alat bantu lainnya. Hanya sebagian kecil wanita yang mempersoalkan ukuran penis. Namun, tidak demikian dengan kaum pria. Kebanyakan pria tentu akan mempermasalahkan ukuran asetnya ini, dan selalu ingin tahu apakah milik mereka sebesar milik teman-temannya.

Jika pria bisa saling melirik milik mereka satu sama lain ketika sedang bersama-sama di toilet, bagaimana wanita bisa tahu bahwa pasangannya mempunyai "sesuatu" yang membanggakan (tanpa membuka pakaiannya lebih dulu)? Katakanlah, sekadar untuk menjawab rasa penasaran? Adakah cara tertentu untuk memastikannya tanpa melihat? Bukankah, seeing is believing?

Ada beberapa ide mengenai bagian tubuh lain yang harus dilihat, karena bagian tersebut juga mampu mencerminkan kondisi penis pria. Tentu, tidak ada jawaban yang betul 100 persen untuk pertanyaan ini. Bagaimana pun juga, inilah yang dilontarkan oleh para pria.

1. Tangannya. Anda tentu sering mendengar bermacam mitos mengenai cara menebak ukuran penis pria. Ada yang mengatakan dari ukuran jempol kakinya, tinggi badannya, telinganya, atau hidungnya. Aih, ada-ada saja. Tetapi, coba kita pikirkan lagi: ada juga pria bertubuh pendek yang punya "senjata" hebat, dan banyak pria dengan hidung besar yang juga diberkahi bagian tubuh lain yang bisa dibanggakannya. Dalam sebuah survei informal yang melibatkan 6 orang pria yang mengkategorikan asetnya dalam ukuran sedang, tampak bahwa ke-6 pria tersebut selalu menatap tangan pria lain yang baru ditemui. Mereka ingin tahu apakah pria yang baru dikenal itu lebih hebat dari mereka atau tidak, dari besar tangannya.

2. Mobilnya. Apakah mobilnya besar dan boros bensin? Ataukah mobilnya sporty dan bisa diajak ngebut? Apakah ia senang pamer dan sedikit konyol? Apakah ia terus-menerus bercerita betapa mulusnya mobil itu saat dikendarai? Seberapa besar ban mobilnya? Jika ia menghabiskan banyak waktu dengan mobilnya ini, dan terus-menerus membicarakannya dengan cara yang terdengar seperti kiasan seksual, wah... Anda bisa terjebak masalah. Inilah yang sering disebut sebagai kompensasi berlebih. Ukuran penisnya mungkin sedang lah, namun ia mungkin tidak cukup percaya diri dengan hal tersebut.

3. Egonya. Semua orang tentu menyukai pria yang kuat dan keyakinan diri. Sering terjadi, untuk sebagian pria, keyakinan diri seperti ini datang dari (atau meningkat karena) rasa aman mengenai ukuran bagian tubuhnya tersebut. Mengapa Tommy Lee begitu pede merayu Heather Locklear (ingat kan, ini mantan istrinya!) dan Pamela Anderson? Atau, Kevin Federline menggaet Britney Spears? Banyak pria percaya bahwa kepercayaan diri ini disebabkan oleh satu "hal",  yang sejak tadi kita bicarakan!
Sumber: Your Tango

11 Alasan Pria Menunda Pernikahan

Di Indonesia, mungkin tidak ada pria yang menganggap dirinya antikomitmen. Kalau pun ada, jumlahnya tidak banyak. Yang terjadi sebenarnya juga bukan antikomitmen, melainkan hanya menunda pernikahan. Apa yang menyebabkan si dia tak juga membicarakan rencana pernikahan dengan Anda, cari tahu alasannya di bawah ini:
Si dia masih ingin flirting around
Begitu pria memutuskan menikah, tentunya ia akan kehilangan kesempatan flirting atau mengencani wanita lain. Kebanyakan dari mereka berusaha mempertahankan kesempatan ini selama mungkin, khususnya ketika mereka tidak yakin apa yang mereka cari dari diri wanita.

Wanita lebih cepat matang daripada pria
Tentu, hal ini tidak berlaku untuk semua orang. Namun pada umumnya, "mengikat diri" sama artinya dengan "menjadi dewasa" bagi sebagian pria. Hal inilah yang ditakuti kaum pria, karena menjadi dewasa menuntut tanggung jawab lebih besar. Karena itu mereka ingin menunda proses menjadi dewasa itu selama mungkin.

Ada wanita lain di hatinya
Sulit bagi pria untuk terikat dengan satu wanita, jika pikirannya tertuju pada wanita lain. Tetapi hal ini tidak sulit dibayangkan, kok. Coba kalau Anda sendiri yang mengalaminya. Anda diminta menerima cinta seorang pria, padahal Anda tertarik dengan pria yang lain?

Ia memiliki prioritas yang lain
Entah karena memikirkan biaya pendidikan adik yang harus ditanggung, karier, hobi, atau apa pun, pria bisa memilih untuk menangguhkan dulu rencananya untuk menikah. Pria cenderung akan berkomitmen pada hal-hal lain yang lebih menuntut perhatiannya, dan memilih berusaha mengatasi persoalan cinta semampunya.

Ia kurang nyaman dengan kedekatan
Anda tak akan tahu apa yang menyebabkannya sulit berdekatan dengan wanita, kecuali Anda sudah begitu mengenalnya. Mungkin ia memiliki pengalaman buruk dengan mantan kekasihnya, atau menjadi anak korban perceraian, sehingga ia bersikap ekstra hati-hati dengan ikatan pernikahan. Rasa sakit yang masih ada dalam hatinya dapat membuatnya enggan berkomitmen dengan wanita.

Khawatir perkawinan tidak akan berhasil
Mengikat diri dengan orang lain tentu melibatkan risiko. Kedua belah pihak harus mau berkorban demi pasangannya, yang tentu saja menghabiskan energi. Bagi sebagian orang, perkawinan tidak layak dijalani, kecuali ada jaminan 100 persen akan berhasil untuk semua orang. Memang, kita tak bisa memastikan apakah jaminan itu betul-betul tidak mungkin diperoleh, namun sesuatu yang belum pasti inilah yang membuat pria mundur.

Ia memiliki banyak aktivitas
Rekan Kompas.com, seorang pria menikah, mengatakan bahwa pria umumnya tak akan merasa khawatir dengan predikat lajang pada dirinya, bila ia memiliki banyak kegiatan yang membuatnya sibuk. Pada akhirnya semua pria tentu ingin berkomitmen, namun selagi ia masih bisa memuaskan hobi mahalnya, atau bergaul dengan sebanyak mungkin manusia, kesempatan itu akan ia manfaatkan sebaik-baiknya.

Ia hanya melakukannya untuk seks
Ada sebagian pria yang memilih melajang karena ingin menaklukkan wanita. Mereka ingin meruntuhkan hati seorang wanita yang terkenal sulit dikejar, wanita yang lebih tua darinya, wanita lajang yang populer, dan lain sebagainya. Hati-hati, jika Anda merasakan sesuatu yang tidak sreg saat berdua dengannya, lebih baik tak usah diteruskan. Jangan sampai Anda hanya menjadi salah satu korbannya.

Si dia masih egois
Mengikat diri dengan satu wanita saja tentu membuatnya harus mengorbankan kepentingannya, waktu dan energinya untuk orang lain. Anda harus menghadiri pertemuan dengan orang-orang yang tak Anda kenal, sementara Anda masih ingin leyeh-leyeh sambil nonton bola di televisi. Coba, dimana letak kesenangan hidup berkomitmen bila hal ini yang harus selalu dihadapi? Suatu saat, si dia tentu tak akan seegois itu lagi, tetapi yang jelas bukan sekarang waktunya.

Dia enggak suka-suka amat dengan Anda
Ia mungkin menganggap Anda orang yang menyenangkan untuk diajak bersenang-senang, namun belum tentu Anda adalah sosok yang diinginkannya untuk hidup bersama selamanya. Anda mungkin akan sulit memahaminya, tetapi bila Anda berpikir sangat sederhana –he’s just not that into you- Anda tentu bisa segera melupakannya. Ayolah, untuk apa sih mengharapkan pria yang tidak menginginkan Anda?

Anda terlalu mendesaknya untuk segera menikah
Jika ingin dia berkomitmen, biarkan dia menemukan momen itu sendiri. Justru bila Anda selalu saja melontarkan topik “kapan kita menikah?”, dia bisa terganggu dengan segala ide tentang menikah itu sendiri. Lagipula, Anda tentu tidak ingin si dia menikahi Anda karena terpaksa, bukan? Pikirkan bila hal ini terjadi pada Anda.

Kombinasi dari berbagai alasan di atas bisa menyebabkan seorang pria bertahan untuk menunda pernikahan. Bila Anda bersabar menunggu waktu yang tepat, bukan tak mungkin ia sendiri yang tak sabar untuk menikahi Anda. Jika yang terjadi kemudian si dia malah nyaman dengan status pacaran tersebut selamanya, berarti dia memang bukan untuk Anda.
Sumber: Marie Claire

Sunday, January 10, 2010

Mengapa Perempuan Suka Difoto Telanjang?



Adalah normal dan manusiawi untuk menjadi narsis atau mengagumi diri sendiri. Entah itu mengagumi diri secara fisik, intelegensia, bakat, atau pun popularitas. Jika satu di antara narsisme itu ada pada diri Anda, jangan dulu melihatnya sebagai sesuatu yang salah.

Tika Bisono, konsultan psikologi TIBIS Sinergi, mengatakan masih normal ketika individu membutuhkan penghargaan atas dirinya. "Self recognition adalah principal need. Untuk bertahan manusia perlu dipuji, dihargai, dan itu adalah kebutuhan yang manusiawi," jelas Tika.

Bicara tentang narsisme fisik, Tika menjelaskan seseorang yang narsis secara fisik tidak melihat kelebihan lain yang bisa ditonjolkan dalam dirinya. Entah itu intelegensia, bakat, atau pun kepopulerannya. Narsisme semacam ini akan mendorong seseorang bereksperimen dengan fisik untuk menggali lebih jauh potensi dirinya. Tujuan akhirnya adalah kepuasan dalam diri sendiri (private satisfaction) dan kepuasan yang didapati dari ruang publik (public satisfaction).

Tika, yang juga anggota tim juri pada grand final Take Me Out Indonesia (TMOI) Season 1, selanjutnya mengatakan jika individu tidak mendapatkan penghargaan atas dirinya, ia akan mencipta sendiri. Niat utamanya adalah pemenuhan kebutuhan mendasar, self esteem, untuk diakui keberadaannya sebagai individu.

Menanggapi keikutsertaan Ayu Oktasari dalam TMOI yang kemudian menobatkannya sebagai pemenang, Tika mengatakan sebagai bentuk usaha Ayu mencari cara untuk memenuhi kebutuhan menjadi eksis. "Menjadi eksis wajar saja," lanjutnya. Kepercayaan diri yang tinggi juga mendorong Ayu untuk mendaftar dan bertahan hingga menang dalam ajang pencarian jodoh tersebut.

Jika menjadi eksis sebagai peserta reality show dan menjadi populer memang normal, tetapi bagaimana dengan foto bugil Ayu yang kemudian beredar bebas di internet (meskipun foto-foto tersebut belum terbukti milik Ayu)? Kembali pada penjelasan Tika, eksperimen fisik sebagai bentuk narsisme adalah wajar jika untuk kepuasan pribadi. Namun menjadi penyakit jika kemudian dipublikasikan dan bahkan dijual. Sebagai salah satu juri yang turut berkontribusi terhadap kemenangan Ayu, Tika cukup terkejut mendengar skandal foto bugil Ayu, yang masih misterius.

Menurutnya, masih terlalu dini untuk melihat apakah foto tersebut adalah bentuk narsisme atau bukan. Apalagi untuk menilai apakah narsisme tersebut normal ataukah penyakit. Kasus semacam ini bisa terjadi pada siapa pun, sepanjang kebutuhan eksistensi, penghargaan, dan pengakuan diri masih dibutuhkan manusia. Hanya saja perlu lebih dicermati, apakah narsisme fisik yang dikatakan normal tersebut masih sehat atau sudah menjadi penyakit yang harus segera dicari obatnya secara klinis.

Menurut Tika, skandal foto bugil Ayu adalah satu ujian yang harus dihadapi Ayu selepas kemenangannya mendapatkan pasangan hidup melalui TMOI.
"Cinta sejati akan terlihat setelah acara ini selesai. Ujian cinta sejati itu adalah saat masing-masing individu mempelajari pasangan. Bagaimana mengambil pilihan, apakah keputusan untuk bersama akan berubah, atau menjadi tertantang untuk bertahan," jelasnya.

 
10 Kesalahan Make-up yang Bikin Anda Tampak Lebih Tua 


Perempuan memang tidak bisa berjauhan dari make-up. Rasanya, ada yang kurang jika tampil polos tanpa sentuhan make-up sama sekali. Bereksperimen memang boleh, tapi jangan sampai riasan wajah membuat penampilan Anda jadi 10 tahun lebih tua. Berikut beberapa kesalahan ber-make-up yang harus dihindari:
1. Memulas foundation terlalu tebal. Maunya sih menutupi kekurangan tekstur kulit, tapi make-up yang cenderung berat atau tebal merupakan kunci utama mengapa seseorang tampil lebih tua dari usia sesungguhnya. Chrisanne Davis, make-up artist yang sering menangani proyek perfilman, menyarankan agar menggunakan foundation yang ringan dan meresap. Pulas foundation dengan spons padat dan tekan-tekan pada bagian yang memiliki kerutan. Semakin tipis semakin baik, karena pada dasarnya foundation memiliki tekstur yang cukup tebal untuk melapisi.
2. Warna dasar yang terlalu terang. Warna foundation yang lebih pucat atau lebih terang dari warna natural wajah Anda bisa menonjolkan garis-garis atau kerut halus di wajah Anda. Sekalipun Anda memiliki kulit wajah yang bersemu sekalipun, Anda harus tetap menggunakan warna yang lebih gelap agar tidak tampak lebih tua.
3. Mengaplikasikan concealer terlalu banyak di lingkaran hitam di bawah mata. Kulit di bawah wajah akan semakin menipis seiring dengan pertambahan usia. Mengaplikasikan concealer terlalu tebal akan membuat Anda terlihat seperti memakai topeng. Sapukan tipis-tipis dengan kuas. Kuas akan membantu membaurkan warna lebih merata. Gunakan hanya di daerah yang gelap, tidak di seluruh lingkaran mata.
4. Bedak tabur yang tidak merata. Bedak tabur baik digunakan untuk bagian wajah yang cenderung mengkilat seperti hidung dan dagu. Namun di bagian wajah yang lain, bedak tabur justru bisa memberikan kesan menonjolkan kerut wajah dan membuat kulit terlihat amat kering. Hindari juga menggunakan bedak tabur di daerah mata.
5. Menyapukan blush on merah muda di pipi. Hasilnya bisa membuat tampilan pipi Anda seperti melorot atau turun. Sebaiknya, sapukan warna tersebut di bagian tulang pipi, dan jangan sampai terlalu dekat dengan hidung. Baurkan warnanya dengan kuas besar yang bisa memulas seluruh tulang pipi. Hilangkan kebiasaan menggunakan warna seperti keunguan atau kecoklatan. Warna itu juga akan membuat wajah Anda makin kempot untuk si kurus, atau seperti badut untuk yang gemuk.
6. Lipstik cair. Garis-garis indah di bibir Anda akan menghilang sejalan dengan pertambahan usia. Akibatnya jika Anda menggunakan lipstik cair akan terlibat melebar dan tidak membentuk garis-garis bibir.
7. Warna-warna terang. Warna yang terlalu terang atau terlalu gelap, atau pun yang berbau metalik, akan terlihat tebal dan padat pada garis bibir. Gantikan dengan lipstik berwarna ringan dan lembut.
8. Maskara terlalu tebal. Maskara yang terlalu tebal hanya akan membuat bayangan di bawah mata makin nampak. Secara umum penampilan jadi tampak tua. Gunakan warna maskara yang pekat, sehingga akan menonjolkan warna putih dari bola mata Anda. Hasilnya, mata tampil lebih jernih dan putih.
9. Eyeliner yang membingkai mata menjadi kecil. Fokus pandangan akan tertuju pada mata Anda yang kecil dan mengundang perhatian pada lingkar hitam mata Anda. Bentuk mata sedikit melebar di luar lingkaran mata.
10. Blush on atau eyeliner ber-shimmer. Sedikit tambahan shimmer pada blush on atau eyeliner tidak jadi masalah. Tetapi jika digunakan pada seluruh wajah Anda hasilnya akan membentuk dan menonjolkan garis-garis halus di wajah.
Sumber: allure


Langkah-langkah Menata Riasan Cantik

Urutan dalam menata riasan tidak selalu baku. Namun, ketika Anda  melakukannya dengan benar, hasilnya pun akan berbeda. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa Anda coba untuk memastikan riasan Anda dalam urutan yang benar agar tidak merusak warna riasan yang lain dan memastikan agar riasan terlihat cantik ditatap.

Langkah 1: Mata
Sebagian orang merasa bahwa urutan pertama setelah membersihkan wajah dan mengoleskan pelembap adalah langsung mengenakan concealer. Sementara sebagian para ahli justru menyarankan untuk menata riasan mata terlebih dulu. Karena dikhawatirkan, riasan mata bisa jatuh dan mempengaruhi warna di bagian wajah lain jika diaplikasikan terakhir. Pertama, kenakan pemulas mata, lalu eyeliner, kemudian maskara.

Langkah 2: Concealer
Untuk bagian hitam di bawah mata dan bintik hitam pada wajah, gunakan concealer berbentuk krim yang satu tingkat lebih terang dari warna kulit Anda. Sementara untuk jerawat yang masih meradang, oleskan pelembap yang bebas minyak pada titik tersebut untuk menjaga agar tidak terlihat kering.  Lalu oleskan salep yang mengandung salicylic acid, kemudian tutup dengan concealer.

Langkah 3: Foundation
Jika kulit Anda kemerahan atau perubahan warna, oleskan foundation ringan dengan jari manis Anda, atau spons.

Langkah 4: Bedak
Pilih satu jenis bedak yang mampu menutupi kekurangan pada wajah Anda lebih lama. Translucent powder, atau bedak mineral, atau bedak padat.

Langkah 5: Perona Pipi
Berikan kesan segar pada wajah dengan perona pipi yang sewarna dengan pipi Anda ketika dicubit pelan.

Langkah 6: Pewarna Bibir
Pewarna bibir bisa dibilang yang hampir paling akhir, agar tidak mengganggu atau kejatuhan warna riasan lain. Pilih lipstik yang pekat dan kesat jika Anda ingin mendapat warna yang matte. Jika Anda ingin menggunakan warna pewarna bibir yang terang atau sangat gelap, lebih baik Anda menggunakan kuas bibir untuk mengaplikasikannya agar lebih tepat. Untuk mencipta bibir yang mengilat, pilih gloss. Warna bening dan merefleksikan cahaya membuat bibir terlihat lebih penuh.

Langkah 7: Alis Mata
Lihat hasil akhir riasan wajah Anda secara keseluruhan untuk menentukan seberapa ketebalan yang sebaiknya Anda aplikasikan pada alis mata. Jika riasan Anda natural, cukup sisir dan rapikan alis mata Anda seringan mungkin. Jika Anda menggunakan riasan wajah yang cukup pekat, gunakan kuas alis yang sudah dicelupkan ke dalam eyeshadow berwarna gelap, lalu sapukan sambil rapikan alis mata Anda.
Sumber: Real Simple

Download:



Wednesday, December 9, 2009

Meals and Recipes


Ingredients:All-American Chilli

  • 6 ounces hot turkey Italian sausage
  • 2 cups chopped onion
  • 1 cup chopped green bell pepper
  • 8 garlic cloves, minced
  • 1 pound ground sirloin
  • 1 jalapeรฑo pepper, chopped
  • 2 tablespoons chili powder
  • 2 tablespoons brown sugar
  • 1 tablespoon ground cumin
  • 3 tablespoons tomato paste
  • 1 teaspoon dried oregano
  • 1/2 teaspoon freshly ground black pepper
  • 1/4 teaspoon salt
  • 2 bay leaves
  • 1 1/4 cups Merlot or other fruity red wine
  • 2 (28-ounce) cans whole tomatoes, undrained and coarsely chopped
  • 2 (15-ounce) cans kidney beans, drained
  • 1/2 cup (2 ounces) shredded reduced-fat sharp cheddar cheese
 

Preparation

Heat a large Dutch oven over medium-high heat. Remove casings from sausage. Add sausage, onion, and the next 4 ingredients (onion through jalapeรฑo) to pan; cook 8 minutes or until sausage and beef are browned, stirring to crumble.
Add chili powder and the next 7 ingredients (chili powder through bay leaves), and cook for 1 minute, stirring constantly. Stir in wine, tomatoes, and kidney beans; bring to a boil. Cover, reduce heat, and simmer 1 hour, stirring occasionally.
Uncover and cook for 30 minutes, stirring occasionally. Discard the bay leaves. Sprinkle each serving with cheddar cheese.
Note: Like most chilis, this version tastes even better the next day.

Hearty Pancakes


Ingredients

  • 1 cup whole wheat flour
  • 1/4 cup all-purpose flour
  • 1/3 cup uncooked farina (such as Cream of Wheat)
  • 1/3 cup sugar
  • 1 teaspoon baking soda
  • 1 teaspoon baking powder
  • 1/2 teaspoon salt
  • 1 1/2 cups vanilla soy milk
  • 1/4 cup applesauce
  • 1 large egg, lightly beaten
  • Cooking spray
  • 1/2 cup golden raisins, divided
  • 1/2 cup coarsely chopped walnuts, divided
  • 1/4 cup maple syrup

Preparation

Lightly spoon the flours into dry measuring cups; level with a knife. Combine flours, farina, and next 4 ingredients (through salt) in a large bowl, stirring with a whisk. Combine milk, applesauce, and egg in a medium bowl, stirring until well blended. Add milk mixture to flour mixture, stirring until well combined. Let batter stand 5 minutes.
Heat a nonstick griddle or skillet over medium heat; coat pan with cooking spray. Pour about 1/4 cup batter per pancake onto pan; sprinkle each with 2 teaspoons raisins and 2 teaspoons walnuts. Cook 1 minute or until tops are covered with bubbles and edges look cooked. Carefully turn pancakes over, and cook 1 minute or until bottoms are lightly browned. Repeat procedure with remaining batter, raisins, and walnuts. Serve with syrup.

Sesame Chicken With Asian Slaw



Ingredients

  • Slaw:
  • 3 tablespoons rice vinegar
  • 1 tablespoon sugar
  • 1/4 teaspoon kosher salt
  • 1/2 teaspoon chili oil
  • 6 cups packaged coleslaw
  • 1 cup orange slices

  • Chicken:
  • 8 ounces soba noodles
  • 3/4 cup panko (Japanese) breadcrumbs
  • 2 tablespoons sesame seeds
  • 1/2 teaspoon salt
  • 1 pound chicken breast tenders
  • 1 large egg white, lightly beaten
  • 1 tablespoon plus 2 teaspoons sesame oil, divided
  • 2 garlic cloves, minced
  • 1 tablespoon minced peeled fresh ginger
  • 1/4 cup low-sodium soy sauce
  • 3 tablespoons rice vinegar
  • 4 teaspoons honey
  • 1/4 cup chopped scallions

Preparation

1. To make slaw, combine rice vinegar, sugar, kosher salt, and chili oil, stirring to dissolve sugar. Toss with coleslaw and orange slices; let the mixture sit 10–15 minutes before serving.
2. Cook the soba noodles according to the package directions. Drain the noodles, and rinse them under cold water.
3. Combine the panko, sesame seeds, and salt on a plate.
4. Dip the chicken breast tenders into the egg white. Then dredge the chicken breast tenders in the panko–sesame seed mixture.
5. Heat 1 tablespoon of the sesame oil in a large nonstick skillet over medium-high heat. Add the chicken breast tenders and cook 4–5 minutes per side, or until cooked through. Wipe out pan.
6. Add the remaining sesame oil to the pan. Stir in the garlic and ginger; cook, stirring, 30–45 seconds until soft. Remove from heat and stir in the soy sauce, rice vinegar, and honey. Reserve 2 tablespoons of the sauce and toss the remaining with the soba noodles and scallions.
7. Place chicken on top of the soba noodles and drizzle with reserved 2 tablespoons of sauce. Serve the Asian slaw alongside.

 Om Rice


Ingredients

  • Pork:
  • 1 teaspoon sambal oelek or Thai chile paste
  • 1 teaspoon low-sodium soy sauce
  • 1/2 teaspoon dark sesame oil
  • 8 ounces boneless center-cut loin pork chops, trimmed and cut into 1/2-inch cubes
  • Cooking spray

  • Rice:
  • 3 tablespoons low-sodium soy sauce
  • 2 teaspoons to 1 tablespoon sambal oelek or Thai chile paste
  • 2 teaspoons dark sesame oil
  • 1 tablespoon vegetable oil
  • 2 teaspoons minced peeled fresh ginger
  • 4 garlic cloves, minced
  • 1/4 cup finely chopped carrot
  • 1 cup sliced shiitake mushroom caps
  • 1 cup chopped zucchini
  • 3/4 cup chopped green onions
  • 1/2 cup chopped red bell pepper
  • 3 cups cold cooked short-grain rice

  • Crepes:
  • 1 teaspoon dark sesame oil
  • 1/2 teaspoon kosher salt
  • 3 large eggs, lightly beaten
  • 4 large egg whites, lightly beaten

Preparation

To prepare pork, combine first 4 ingredients in a small zip-top plastic bag. Seal and marinate in refrigerator 30 minutes. Heat a large nonstick skillet or wok coated with cooking spray over medium-high heat. Add pork mixture; stir-fry 2 minutes or until pork loses its pink color. Remove pork from pan. Cover and keep warm.
To prepare rice, combine 3 tablespoons soy sauce, 2 teaspoons sambal oelek, and 2 teaspoons sesame oil, stirring with a whisk; set aside.
Heat vegetable oil in pan over medium-high heat. Add ginger and garlic; stir-fry 30 seconds. Add carrot; stir-fry 1 minute. Add mushrooms, zucchini, onions, and bell pepper; stir-fry 3 minutes. Add rice; stir-fry 2 minutes or until thoroughly heated. Drizzle soy sauce mixture over rice mixture; stir well to combine. Cover and keep warm.
To prepare crepes, combine 1 teaspoon sesame oil, salt, eggs, and egg whites, stirring mixture with a whisk. Heat an 8-inch nonstick skillet coated with cooking spray over medium-high heat. Pour about 1/4 cup egg mixture into pan; quickly tilt pan in all directions so the egg mixture covers pan with a thin film. Cook about 1 minute. Carefully lift the edge of crepe with a spatula to test for doneness. Turn crepe over when it can be shaken loose from the pan and the underside is lightly browned; cook 30 seconds on the other side. Place crepe on a towel. Repeat procedure until all of the egg mixture is used. Stack crepes between single layers of wax paper or paper towels to prevent sticking.
Spoon about 1 cup rice mixture down center of each of 5 plates. Top each serving with a crepe; tuck edges of crepe under rice mixture. (The dish will look like a burrito.)

 
 
 

 



Thursday, November 19, 2009

Dating Dilemmas: 8 Tips for Telling Your Partner a Health Secret


Dating someone new means learning about each other’s quirky behaviors, emotional baggage, and the past experiences that have shaped both of your lives. But what if this involves a health or medical secret you’re hesitant to talk about?
Jill*, a 33-year-old from New York City, knows that finding Mr. Right also means telling him that she has bipolar disorder. Though she takes medication to manage her condition, she still lives with residual symptoms: She has trouble sleeping for more than two hours at a time, and can’t shake her cigarette habit—traits that she feels a date might question.
“It’s the smoking and lack of sleeping; it’s hard to share your life with someone when you need to explain further why you do these things,” she says.
Jill* knows that she’ll eventually have to confess her situation to a long-term partner. “It’s something that will affect me if and when I settle down and have children, since I would not be able to take these medicines [while pregnant],” she explains. “It’s never an easy thing to come clean with.”
Not every relationship hides a secret like this one, but plenty of people face similar decisions about how much they should tell a new companion. Some confidential information can’t stay that way forever—if you take daily medication or if you have a condition with visible symptoms, for example. Other events in your medical history, such as addictions, mental illness, past surgeries, and health scares, can easily remain a secret—but should they?
If you’re considering telling your partner about a health secret, here are eight tips to help you spill the beans.

1. Practice what to say
Before you drop a bomb on a potential mate, rehearse your speech with a trusted friend or visit a therapist to talk it through, suggests Ken Robbins, MD, a clinical professor of psychiatry at the University of Wisconsin–Madison.
“It’s good to have somebody as a sounding board in a situation like this,” he says. “How you handle this is not something your partner is likely to forget.”
Laurie Davis, an online dating expert based in New York and Boston, suggests asking a friend what sounds most intimidating about your condition and getting his or her advice on how to smooth it over. Getting a second opinion can help you decide how much to say (and when and where to say it), and running through your script a few times can make you more comfortable sharing your story.
“You don’t want to overwhelm your partner but you want to be sure to give him or her all of the important facts,” Davis says. “You should definitely practice before you tell your match, or you’ll most likely fumble through the conversation uncomfortably.”
Mark Snyder, a 32-year-old writer from New York City, used to dread telling a new boyfriend that he was a recovering alcoholic. “I don’t think I was ever able to shake off the feeling I was springing the information on him, usually when we were either out to dinner and he wanted to order a bottle of wine, or at a party where alcohol was introduced,” he says. “I often blurted out, ‘Oh, I don’t drink. Sorry.’”
That changed, however, as he got used to talking about his condition. “As time went on, and I got more comfortable with this side of my life, so did the ease with which I told a man not to expect a tequila-scented smooch at the end of the night,” he says. “I realize my blurting-it-out style was my own insecurities about sobriety. I celebrate it now.”

2. Never tell on a first date
“Never tell someone on a first date,” Davis says. “The results will never be favorable.”
Dr. Robbins seconds that, especially if you’re worried that your health secret “is likely to define you before the person has gotten a chance to know you at all.”
That doesn’t mean you should lie—just let your partner get to know you first. “[Revealing too much too soon] may color how your partner sees you,” Dr. Robbins says. “It defines you before you’re ready to be defined.”
Jenny*, a 25-year-old graduate student from New York, had a breast augmentation when she was 19. “I don’t really bring it up, not when I’m first dating people,” she says. “But I’ve had people ask and I’m always honest with them. I wouldn’t see a reason to keep it a secret, especially if we’re getting serious.”
If you’re worried that your health secret might be a deal-breaker, you’ll want to ‘fess up by the fourth date, says Rachel A. Sussman, LCSW, a New York City therapist and relationship expert. That way, if your secret does make a big difference, you won’t have wasted too much of their time—or yours.
“Of course it can be painful, but if that’s the case, it’s better to know before you get too involved,” Sussman says. “It’s complicated if you withhold it and they find out too late. Dishonesty can ruin a potentially good relationship.”
Jill*, the 33-year-old from New York City, is currently in a long-distance relationship. However, she hasn’t told him about her bipolar disorder—yet.
“Too much too soon is not a good thing…. [But] I truly believe when you share a life with someone, you need to be in it together,” she says. “Men go bald; women gain weight after pregnancy. It’s not all roses and Champagne.”
3. Be casual yet confident
So exactly how does one reveal a secret without just blurting it out? “It’s hard not to kill the mood with your health secret, because it’s probably not something that can be easily segued from a topic you would normally discuss,” Davis says. She recommends a conversation bridge, such as, “I feel like we’re heading in a great direction, so I wanted to tell you something.”
Just don’t overdo it: “You don’t want to frame this in a way that ends up making a bigger deal of something you don’t want made into a big deal,” Dr. Robbins says. In other words, make your delivery as drama free as possible.
Allison*, a 30-year-old marketer from Baltimore, tries to casually tell dates about her multiple sclerosis (MS).
“Usually I’ll work it into another aspect of our conversation,” she says. “It’s a lot easier to tell someone I have MS as a side note in a conversation than to sit down and have a formal discussion focused solely on MS.”
However, even a casual, well-prepared speech doesn’t always meet with success.
“One guy just clammed up and didn’t want to say anything or go anywhere because, in his eyes, I might get hurt,” Allison* says. “And another guy became very controlling and tried to tell me what I should and shouldn’t be doing for my health. Um, you’re not my doctor, dude.”
Allison’s dates probably have their heart in the right place. “They’re trying to be helpful because they care about her,” Dr. Robbins says. He suggests that she have a confident, straightforward response about how she would like them to react; something like: “I don’t see this as something that defines me—but if I need help, please leave it to me to ask.”

4. Don’t have this conversation in bed—or anyplace you associate with intimacy
Although this is a good guideline to follow when dealing with all types of relationship secrets, there’s only one instance in which it is a hard-and-fast rule, Sussman says: “Don’t wait until you’re naked in bed with someone to tell them you have an STD.”
That’s true for any condition, Davis adds. But Dr. Robbins notes that if your health secret is a sexually transmitted disease (STD), you’re going to have to open up to someone sooner rather than later.
“If it’s something that’s going to have a direct effect on your partner, it’s something you’re going to want to talk about sooner, as opposed to an illness that isn’t contagious,” Dr. Robbins says. “If it’s something like hepatitis C, you really do have to talk about that very early.”
Amy, a 29-year-old graphic artist from Chicago, jokes that hepatitis C is the only thing she has in common with Pamela Anderson. But she’s serious when it comes to telling boyfriends about her illness, which she got through a blood transfusion at birth.
“There is less than a 3% chance of transmission within a monogamous relationship, but I’ve always been truthful and upfront about it, whether I ended up in a sexual relationship with someone or not,” she says. “They have a right to know.”
An ideal place to tell someone about your health secret—whether it’s a communicable disease or any other condition—is a park, Davis says. Just make sure there’s no one within earshot.
“Do not tell your partner during intimacy. Telling your partner your health secret means you are opening up to them, trusting them, and becoming more vulnerable,” she says. “The place you choose to tell them should reflect this.”
5. Seek out relationships online
If you tend to meet potential partners through online networks such as Facebook or Match.com, you shouldn’t hint in your profile that you’re concealing a health secret. However, if you’re nervous about rejection or misunderstandings, you might be more comfortable dating someone with similar health issues.
There are many niche sites that cater to people with specific conditions, and they’re a great way to be up-front with potential mates who are in the same boat, Davis says.
Daters with STDs can check out STDFriends.com or PositiveSingles.com, while Whispers4u.com is a great site for people with disabilities, according to Davis. NoLongerLonely.com helps those with mental illness seek partners. “[However,] you should discuss the volatility of your specific condition with your doctor before signing up,” Davis says.
6. Know when to give your partner space
Even if you do your best to deliver a snag-free speech, it’s possible that there could be an awkward moment. “[If that happens], say, ‘I can tell by your expression that this is a lot to digest and I completely understand, and I’ll give you the time and space to do that,’” Sussman says.
Then, offer some physical distance but stay in contact, Davis says. “Give them the following day to breathe and think,” she suggests. “Call them on the third day if they haven’t reached out to you. Let them know that they are still on your mind and you can’t wait to see them again.”
7. Don’t take rejection personally
“A good person will listen and be kind and not judge, but if [your health secret is] something they can’t live with, that doesn’t make them a bad person,” says Sussman. “It just makes them a bad match.”
And there can be multiple reasons for a rejection—many of which have nothing to do with you at all. “If your mother was an alcoholic and you date someone who’s an alcoholic, you might have to make a choice that it’s not healthy to be involved with someone in recovery,” Sussman says.
Besides, your perfect match will accept you no matter what, Davis says: “If things were going well up until the time you told them, keep in mind that they rejected your health condition, not you. At the end of the day, it means that they were not the one.”
8. Accept support
Tiffany Sanchez Conover, 28, a store manager from northern Indiana, settled into a deep depression after her grandmother died. She slept all day, stopped eating, and became socially withdrawn—even with her husband. Still, she kept her depression hidden, because she wanted to “figure it out on my own.”
“[Eventually] I felt like I had to tell him because I could feel the strain it was placing on our relationship,” she says. “A person can only take so much of their spouse not wanting anything to do with them before they start assuming the worst, an affair.”
Tiffany’s husband was hurt that she hadn’t told him earlier, but he was glad she finally confessed. “After I told him, he was as supportive as could be,” she says. “He would stay up late to talk with me just so I wouldn’t feel lonely late at night, even though I’m sure he really wanted to go to bed.”
It’s especially important for married couples to be open to avoid hiccups in the relationship, Sussman says. “In healthy marriages, people lean on each other and are honest with each other,” she explains. “You can never lose by being honest.”
Tiffany knows that now: She and her husband recently went through a series of failed fertility treatments after finding out she likely cannot have children on her own. “I probably share too much now,” she says, laughing. “But it works for us. If I didn’t tell my husband how I felt about it all every day, I probably would end up depressed again.”
A counselor also helped Tiffany to get through the initial rough patch. Therapy and support groups—whether online or in person—are excellent options, according to Sussman. “Name the illness and there’s a support group,” she says. “If you go to your supportive community, you’ll hear stories of how people have handled these things in the past.”
(By Marti Trgovich)

Sunday, November 15, 2009

Natural Beauty and Style: Feed Your Face: Healthier Skin Starts With These Five Foods


Strawberries have more antiaging vitamin C per serving than oranges or grapefruit. And research published in the American Journal of Clinical Nutrition shows that people who eat foods rich in C have fewer wrinkles and less age-related dry skin than those who don’t. C helps fight free radicals, which damage cells and break down collagen, leading to those dreaded fine (and not-so-fine) lines. For smoother, better-hydrated skin, apply a natural-berry mask like the one below once or twice a week, and eat C-rich foods daily, says Ramona Ionescu, primary aesthetician at New York City’s Cornelia Day Resort.

Sip it: Strawberry Smoothie Mask
In a food processor or blender, combine 1 cup frozen or fresh strawberries
(or a mix of strawberries, raspberries, and blueberries—they’re all antioxidant stars). Stir together blended berries, 1 cup vanilla or plain yogurt, and 11⁄2 tablespoons honey (a great moisturizer) in an 8-ounce glass. Enjoy smoothie, setting aside enough to coat your face.
Smooth it on:
Apply remaining smoothie (from recipe at left) to your face over a sink (it’s a little drippy at first, but a smooth layer will stay put), and leave it on for about 8 minutes before rinsing off.


Here’s a beautiful reason to stop by the supermarket today: Certain foods have powerhouse ingredients that keep skin supple and smooth and help fight age-related damage, says Nicholas Perricone, MD, a board-certified dermatologist and author of Ageless Face, Ageless Mind. Wondering what to eat and what to smooth on? Click the links below to find out: These skin-saving foods help both ways. (Be sure to do a skin-patch test first, and wait 24 hours to see if you have an allergic reaction.)




Feed YourR Face: Olive Oil.


The antioxidant, anti-inflammatory properties of olive oil don’t just benefit you on the inside—they soften your skin, too. “Ancient Romans massaged olive oil into their skin,” Perricone says. “When used topically, olive oil results in smoother, more radiant skin.” Plus, consuming olive oil, a staple in the healthy Mediterranean diet, provides antioxidants to disarm free radicals and reduce inflammation. “Remember, inflammation is not just linked to disease—it’s a major cause of wrinkling and sagging in the skin,” Perricone explains. In addition to working olive oil into your daily diet, apply as a lip gloss and skin soother, as needed. If you have dry skin, you’ll particularly benefit from topical application.
Smooth it on: Olive Oil Quencher
Dab a pea-size amount of extra-virgin olive oil on lips to hydrate a parched pucker; or use it on rough patches (think elbows and heels), as needed.

Green Tea.

Curling up to a cup of green tea does a lot more than relax you. Green tea is filled with inflammation-fighting antioxidants, Perricone says. What’s more, research from Case Western Reserve University and the University of Alabama at Birmingham shows that drinking green tea may reduce your risk of skin cancer. (And when you add a generous squeeze of citrus juice—like lemon, lime, or orange—the tea’s antioxidants get a boost of staying power, so they remain in and benefit the body longer, rather than being digested quickly and having much of the goodness go down the drain, according to Purdue University researchers.)


Press it on: Easy Green Tea Eye Treatment
Chill damp tea bags in the fridge and put on eyes for 10–15 minutes. Green tea contains tannins, which act as an astringent when applied to skin and can help reduce puffiness, Perricone notes.
Drink it: Sip at least three big mugs of green tea every day for an antioxidant boost, Fernstrom says.






“Pomegranates are one of the most antioxidant-rich fruits,” says Madelyn Fernstrom, PhD, founding director of the Weight Man­agement Center at the University of Pittsburgh Medical Center. Research shows this fruit’s juice has more inflammation-fighting anti­oxi­dants than red wine or green tea.
Eat some fresh pomegranate (in season now through January). Or, use it in
the age-fighting scrub recipe below; apply once or twice a week to remove dead skin cells, suggests Cleo Londono, aesthetician and owner of Meta­mor­phosis Day Spa in New York City.


Scrub it on: Pomegranate Exfoliating Scrub
Cut off pomegranate crown, and score rind in sections, without cutting all the way through. Place in a bowl of water for 5–10 minutes. Break rind away from seeds, which will sink; strain seeds. In a food processor, combine 2 tablespoons seeds and 1 cup uncooked oatmeal. Transfer to bowl; stir in 2 tablespoons honey (an antiseptic) and 2 tablespoons buttermilk. Apply to face for a few minutes, then rinse. For rough patches (like elbows), add 3⁄4 cup turbinado sugar.
Eat it: Enjoy remaining pomegranate seeds (from recipe below) au naturel or with your favorite cheese.
(articles from Rachel Grumman)

Thursday, November 12, 2009

20 Meals That Won't Kill Your Cholesterol.


Low-cholesterol, flavor-packed dishes

Eating a healthy diet doesn't mean the end of taste—just check out this collection of delicious low-cholesterol recipes. You'll forget you're eating for your health!

Parmesan Potato Pancake
With only 4 milligrams of cholesterol, this potato pancake packs a punch of flavor. Olive oil is a healthier way to fry or sautรฉ foods because it's rich in monounsaturated fat.
Try this recipe: Parmesan Potato Pancake
                                                      Next: Ginger-Chocolate Chunk Ice Cream Sandwiches 



Ginger-Chocolate Chunk Ice Cream Sandwiches

Instead of buying your own ice cream sandwiches, which may contain saturated or trans fat, use this DIY recipe. And, for a more figure-friendly option, use fat-free ice cream.

Try this recipe: Ginger-Chocolate Chunk Ice Cream Sandwiches


 

Sangria

Health experts say that red wine—in moderation—can help raise HDL, the good cholesterol.

Try this recipe: Sangria
Next: Apple-Cinnamon Granola




Apple-Cinnamon Granola

Whole grains in granola are a tasty way to promote heart health. The oats in this recipe contain soluble fiber, which reduces bad cholesterol. Making your own granola allows you to keep the sugar content lower than store-bought brands.

Try this recipe: Apple-Cinnamon Granola 





Lighter Penne a la Vodka

Just because you have to cut cholesterol doesn't mean you have to cut flavor. Choosing low-fat or fat-free milk instead of a cream creates a lighter, lower-cholesterol sauce.

Try this recipe: Lighter Penne รก la Vodka




Morning Glory Muffins

Packing in fruits and nuts into a whole-grain muffin provides a boost of heart-healthy fiber. Enjoy this breakfast treat with a fat-free yogurt.

Try this recipe: Morning Glory Muffins





Arugula and Goat Cheese Pizza

Even if you have high cholesterol, you can still enjoy pizza. This recipe cuts back on cheese, amps up the veggie intake, and adds walnuts, which may help lower blood cholesterol.

Try this recipe: Arugula and Goat Cheese Pizza




Carrot-Ginger Soup

Since cholesterol is found in many animal products, this creamy veggie-based soup keeps the cholesterol count low. Carrots are a great source of beta-carotene.

Try this recipe: Carrot-Ginger Soup




Jane's Vegetarian Chili

Vegetarian chili is cholesterol free and packed with fiber. Topping it with cheese will add some cholesterol, but choose reduced-or fat-free to cut back on saturated fat.

Try this recipe: Jane's Vegetarian Chili




Bean and Corn Salsa

Most dips are fat-and cholesterol-laden, but salsa is a light yet savory snack. Serve with multigrain tortilla chips that have about 3 grams of fiber per serving.

Try this recipe: Bean and Corn Salsa




Lemon-Asparagus Pasta

Meat-based sauces quickly rack up cholesterol, but this tangy pasta keeps it heart-healthy with fresh asparagus and lemon. Try whole-wheat pasta to sneak in some fiber.

Try this recipe: Lemon-Asparagus Pasta




Two-Potato Salad With Mustard-Chive Dressing

Adding sweet potatoes to your traditional potato salad is a great way to get a boost of fiber and vitamin A. Try fat-free mayonnaise to cut back even more on fat.

Try this recipe: Two-Potato Salad With Mustard-Chive Dressing



Linguine With Red Pepper Sauce

Without meat or dairy, veggie-based sauces get the cholesterol green light. Red bell peppers add a subtle flavor and contain two heart-healthy powerhouses: vitamin B6 and folic acid.

Try this recipe: Linguine With Red Pepper Sauce




Grilled Scallops With Lemon-Chickpea Salad

Scallops are a great source of vitamin B12 and omega-3 fatty acids. And the combination of vitamin C and A in the spinach prevents cholesterol from building up in blood vessels.

Try this recipe: Grilled Scallops With Lemon-Chickpea Salad
Next: Mixed Green Salad With Dried Plums and Toasted Pecans 




Mixed Green Salad With Dried Plums and Toasted Pecans

Fill up on a fresh, green salad and feel healthy and satisfied. Dark greens are rich in folate, potassium, and fiber. Be wary of creamy dressings, which can pack on the saturated fat.

Try this recipe: Mixed Green Salad With Dried Plums and Toasted Pecans


Mediterranean Stuffed Tomatoes

Savor these tomatoes as an appetizer or a snack. They're rich in flavor and high in lycopene, an antioxidant that helps prevent the clogging of the arteries by stopping the oxidation of cholesterol.

Try this recipe: Mediterranean Stuffed Tomatoes




Marinated Feta and Olive Skewers

These flavor-packed skewers are a great treat. Goat cheese is a great source of calcium, and the serving size doesn't boast too much cholesterol.

Try this recipe: Marinated Feta and Olive Skewers




Quick Roasted Vegetable Fajitas

This Mexican-inspired vegetarian dish is full of protein and monounsaturated fat. Packed with low-cal spices and salsa, you'll never miss the meat, and fat-free refried beans add a healthy dose of fiber. Choose fat-free cheese to cut out extra fat.

Try this recipe: Quick Roasted Vegetable Fajita
 
 

Lightened Waldorf Salad

By using fat-free mayonnaise and fat-free yogurt, you can cut back on cholesterol and fat. The lighter the dressing, the more you can taste the fruity and nutty flavors.

Try this recipe: Lightened Waldorf Salad
 



Grilled Zucchini Roll-Ups With Herbs and Cheese

These easy-to-make roll-ups are perfect for appetizers or a light lunch. Each roll packs a punch with fiber, protein, and monounsaturated fat.

Try this recipe: Grilled Zucchini Roll-Ups With Herbs and Cheese